Sabtu, 18 Desember 2010

AHMADIYAH DAN KRISTEN

alt
H. Chep Hernawan
(Ketua Umum Gerakan Reformis Islam)

Ada dua kelompok yang saat ini dengan gencar tengah melakukan pemurtadan dan penyesatan terhadap umat Islam Indonesia yang mayoritas mutlak 88 persen. Pertama, kelompok Kristen dengan segala sektenya termasuk Katolik, Protestan, Advent, Yehova, Evangelis dan sebagainya. Mereka dengan segala dana, daya, upaya serta kelicikannya  berusaha memurtadkan umat Islam Indonesia.
Mereka memiliki target dalam 50 tahun sejak munculnya SKB 1/1969, Islam di Indonesia harus menjadi minoritas. Sehingga pada tahun 2019 nanti, mereka berharap Kristen akan menjadi mayoritas di Indonesia, sesuatu yang tidak mampu dilakukan “gurunya” Kolonial Belanda meski telah menjajah Nusantara selama 350 tahun.

Kedua, kelompok Ahmadiyah yang dengan gencar berusaha menyesatkan aqidah umat Islam Indonesia. Meski mereka hanya memiliki segelintir pengikut, namun cukup fanatik dan fundamentalis dalam memegang teguh ajarannya yang sesat. Mereka juga dekat dengan kalangan Istana dan pusat kekuasaan, sehingga terhindar dari pembubaran meski telah terbukti melanggar SKB Menag, Mendagri dan Jaksa Agung tahun 2008.

Berikut ini wawancara dengan Ketua Umum GARIS (Gerakan Reformis Islam) dan Panglima Komando Laskar GARIS, H. Chep Hernawan. Wawancara ini seputar aliran sesat Ahmadiyah dan gerakan Kristenisasi yang sangat gencar terhadap umat Islam Indonesia, termasuk mendirikan Gereja-Gereja liar meski melanggar Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 9 dan 8 tahun 2006 yang merupakan revisi dari SKB Nomor 1 tahun 1969.

Aliran sesat Ahmadiyah terus melakukan pelanggaran SKB, bagaimana komentar anda?

Memang aliran sesat Ahmadiyah terus melakukan pelanggaran SKB Menteri Agama, Jaksa Agung dan Mendagri tentang “Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.” SKB yang ditetapkan di Jakarta pada 9 Juni 2008 itu berisi tujuh point, diantaranya:

Pertama, memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Kedua, memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok- pokok ajaran Agama Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya Nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada Diktum Kesatu dan Diktum Kedua dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Namun ternyata sampai sekarang Ahmadiyah masih tetap melakukan kegiatan seperti lokakarya, seminar bahkan Mukernas yang diikuti perwakilan dari seluruh Indonesia. Terakhir mereka melakukan  Mukernas di Hotel Setia Cipanas, Cianjur, Jawa Barat., Jum’at (3/12) lalu. Akhirnya karena melanggar SKB, kami membubarkan secara paksa kegiatan Ahmadiyah tersebut. Memang selama ini Ahmadiyah dikenal bandel dan terus melakukan aktifitasnya dengan melanggar SKB.

Selama ini kami sudah memberikan peringatan keras kepada Ahmadiyah agar menghentikan seluruh aktifitasnya seperti seminar, lokakarya, Mukernas dan sebagainya, kalau tak ingin ada reaksi dari umat Islam. Kami telah memiliki bukti dan fakta otentik tentang aktifitas Ahmadiyah pasca SKB tahun 2008 lalu. Ini akan saya laporkan ke MUI, Menag dan Kejaksaan Agung.

Apakah anda telah berkoordinasi dengan pihak Kepolisian sebelum membubarkan Mukernas Ahmadiyah tersebut?

Saya telah berkoordinasi dengan Kepolisian, dimana sudah saya sampaikan kepada Kapolres Cianjur, AKBP Jaka. Saya mengatakan apabila sampai waktu 15 menit Ahmadiyah (sejak diminta bubar) tidak membubarkan diri, maka ditempat ini akan terjadi lautan darah, karena waktu yang rasional untuk membubarkan diri adalah 15 menit. Akhirnya mereka semua membubarkan diri dan kabur dari Hotel Setia termasuk Ketua Umum JAI, Abdul Basit yang kabur duluan. Waktu itu kurang lebih ada 70 mobil diparkir, namun dalam 30 menit tempat parkir sudah kosong semua.

Apakah sewaktu akan mengadakan Mukernas, Ahmadiyah sudah meminta ijin kepada pihak berwenang seperti Kepolisian?

Ahmadiyah tidak meminta izin kepada Kepolisian, tetapi meminta izin kepada pihak hotel. Kami sempat memarahi pihak hotel, namun karena izinnya bukan Ahmadiyah tetapi sebuah yayasan yang ingin memasyarakatkan olahraga, jadi oleh pihak hotel diterima saja. Kami sampaikan kepada pihak hotel, kalian hanya menerima dari kepentingan bisnis saja. Misalnya ada orang PKI mengadakan acara komunis disini, apakah saudara juga akan menerimanya?

Mengapa anda sampai mengetahui secara detail semua kegiatan Ahmadiyah di Cianjur?

Kami mengetahui kegiatan Ahmadiyah karena kami memiliki intelijen yang banyak untuk selalu mengamati pergerakan Ahmadiyah di Cianjur. Kami memang memiliki intelijen khusus untuk itu. Sudah kami sampaikan kepada Sekjen FPI, Ustad Shobri Lubis, dimana Mukernas rencananya akan diadakan di Masjid Al Hidayah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tetapi karena FPI telah melakukan aksi-aksi, maka dipindahkan ke Cipanas, Cianjur.

Selama ini media massa milik sekuler menuduh umat Islam selalu melakukan kekerasan fisik terhadap Ahmadiyah, bagaimana komentar anda?

Sekarang ini sudah tidak ada lagi orang Islam yang melakukan kekerasan fisik  terhadap Ahmadiyah. Jadi Ahmadiyah jangan memutarbalikkan fakta. Adapun yang selalu kita lakukan adalah tindakan yang sesuai dengan hukum. Seperti pada Jum’at (10/12) lalu  kita menyaksikan aparat mengeksekusi tempat ibadah Ahmadiyah di Sukabumi. Masjidnya tidak di buldoser, tetapi bagi siapa saja yang membutuhkan bahan meterialnya, silahkan dibongkar sendiri. Tetapi sudah dibacakan eksekusinya oleh pihak Pengadilan Negeri Sukabumi.

Menurut anda, mengapa pemerintahan SBY sulit untuk membubarkan Ahmadiyah meski telah melanggar SKB dan digolongkan aliran sesat?

Barangkali ada sejumlah pejabat yang menjadi anggota atau simpatisan Ahmadiyah, seperti Sekda Sukabumi, Tasikmalaya dan Garut adalah anggota Ahmadiyah.  Jadi kesulitan untuk membubarkan Ahmadiyah karena para pejabatnya menjadi pengikut Ahmadiyah. Memang Presiden SBY sendiri yang tidak tegas terhadap Ahmadiyah.

Mengapa SBY tidak tegas terhadap Ahmadiyah?

Kemungkinan Ahmadiyah dananya kuat. Apalagi eksistensi Ahmadiyah di Indonesia didukung Barat yang memiliki kepentingan untuk menyesatkan umat Islam, sehingga SBY takut untuk membubarkannya. Padahal jika mau, bisa saja SBY membubarkan Ahmadiyah.

Pertanyaannya, mengapa SBY tidak mengeluarkan Keppres untuk membubarkan Ahmadiyah. Padahal oleh Ahmadiyah, umat Islam dianggap sebagai orang sesat. Tetapi sesungguhnya merekalah yang dilaknat Allah SWT, karena telah menyamakan Mirza Ghulam Ahmad Al Kadzab sama dengan Allah SWT. Jadi sesungguhnya merekalah yang sesat.  

Memang Pemerintahan SBY tidak berani melarang Ahmadiyah sebagaimana Pemerintah Pakistan, padahal keduanya sama-sama mendapat dukungan dari AS. Terbukti Pemerintah Pakistan berani melarang Ahmadiyah dan para pemimpinnya sama kabur ke London.

Apakah eksistensi Ahmadiyah di Barat cukup kuat?

Eksistensi Ahmadiyah di Barat memang sedikit kuat seperti di Inggris dan AS, bahkan pusat Ahmadiyah sekarang di London, Inggris. Ketika menjajah India, Inggris memang sengaja mendirikan Ahmadiyah karena aliran sesat itu menafikan konsep jihad. Sebab kalau ada jihad, maka penjajahan Inggris di India akan cepat runtuh. Ahmadiyah didirikan untuk menangkis ajaran jihad agar tidak ada dalam Islam. Makanya Ahmadiyah sengaja didirikan dan dipelihara Barat yang sekuler dan Nasrani untuk merusak Islam.

Mengapa para guru Ahmadiyah mati-matian mempertahankan ajaran sesat tersebut?

Sebab Ahmadiyah sekarang telah menjadi ajang bisnis bagi para gurunya. Pasalnya, setiap pengikut Ahmadiyah selalu setor uang bulanan. Para guru Ahmadiyah mempunyai hak 10 persen, dimana mereka menyebutnya sebagai Amilin. Para pengikut Ahmadiyah di Garut mencapai 2.170 orang, dimana mereka wajib setor minimal Rp 100.000 perbulannya. Bahkan ada yang setor sampai Rp 500.000 perbulan yang mereka istilahkan dengan Infaq. Jadi para guru Ahmadiyah memilih menjadikannya sebagai ladang bisnis, bukan kembali kepada ajaran Islam yang benar.

Untuk bisa diterima di Indonesia, apakah Ahmadiyah perlu menyatakan dirinya sebagai agama di luar Islam?

Jika Ahmadiyah ingin tetap eksis, maka perlu mendeklarasikan sebagai agama baru di luar Islam, jangan menyebut dirinya sebagai orang Islam. Maka sebagai konsekwensinya, Ahmadiyah dilarang mengunakan label dan simbol Islam seperti tempat ibadah Ahmadiyah tidak boleh dinamakan masjid dan sebagainya.

Selama ini yang menjadi perhatian Anda selain Ahmadiyah, apakah juga Kristenisasi terhadap umat Islam Indonesia?

Betul sekali ! Memang yang paling kita sorot adalah Ahmadiyah dan pemurtadan terhadap umat Islam di Indonesia.Sedangkan persoalan bencana alam dan lainnya juga ikut kami perhatikan. Tetapi perhatian utama tetap pada Ahmadiyah dan pemurtadan.   Karena target Ahmadiyah adalah merusak aqidah umat Islam. Karena itu kami selalu memperkuat intelijen untuk mengamati setiap aktifitas Ahmadiyah yang melanggar SKB. Sekarang Ahmadiyah tidak bisa main-main dengan GARIS Cianjur, sebab kami mengetahui segala aktifitas Ahmadiyah karena memiliki intelijen yang kuat.

Bagaimana anda menghadapi pembangunan Gereja-Gereja liar?

Gereja liar dan Ahmadiyah adalah “makanan” kami sehari-hari. Kami sering melakukan eksekusi terhadap Gereja-Gereja yang tidak memiliki izin tersebut. Jika kami berhadapan dengan mereka, seperti kucing ketemu dengan tikus. Tidak hanya itu, kami juga akan menutup tempat-tempat maksiyat seperti lokalisasi pelacuran. Semua itu dalam upaya menegakkan amar makruf nahi mungkar. 

Sejak kapan Anda menghadapi pemurtadan di Cianjur?

Saya selalu memerangi pemurtadan yang dilakuan Kristen Katolik dari Lembah Karmel, Cianjur. Tahun 2001 saya pernah melakukan gerakan untuk mengganjal Karmel. Ketika kami melakukan gebrakan untuk memukul Karmel, kami justru berhadapan dengan para ulama, memang itu aneh. Tetapi sekarang para ulama di Cianjur sudah tahu bahwa saya sangat serius untuk mengatasi pemurtadan dari Kristen dan Ahmadiyah.

Apa ada kerjasama antara Ahmadiyah dengan Kristen Katolik di Cianjur ?

Kalau kerjasama kelihatannya tidak, tetapi kalau pemurtadan jelas terjadi terhadap umat Islam di Cianjur, dimana kami terus memantau pusat Kristenisasi di Lembah Karmel, Cianjur. Kalau dulu Karmel luasnya hanya 14 hektar, tetapi sekarang telah menjadi 650 hektar.

Mengapa Karmel memiliki tanah seluas itu, darimana dananya?

Memang teman-teman di Jakarta tidak mengetahui bagaimana gerakan Karmel. Kalau saya ungkap mengenai pelanggaran, tidak hanya Karmel
telah melakukan pemurtadan, tetapi mereka juga melanggar Keppres 114 tahun 1999 tentang Penataan Ruang Kawasan Bogor- Puncak- Cianjur. Artinya, kelompok Katolik di Lembah Karmel telah melanggar Keppres tetapi mereka tidak pernah ditindak tegas. (Saya pikir) kalau saya mengatakan Karmel telah melakukan pelanggaran pemurtadan, maka tidak akan ada yang membela saya. Tetapi ketika saya mengatakan Karmel telah melanggar Keppres, ternyata tidak ada juga yang membela saya. Saya meyakini Karmel memiliki kekuatan yang didukung pemerintahan.

Memang Karmel telah memiliki benang merah dengan Vatikan dan negara Barat lainnya. Tahun 2007 lalu pihak Katolik Karmel akan mengadakan konferensi tingkat dunia “Tritunggal Maha Kudus” yang dihadiri Pastur, Uskup dan Kardinal lebih dari 100 negara  dan akan diadakan di Lembah Karmel Cianjur. Tetapi konfrensi itu berhasil kami gagalkan, karena kami tahu gerakan mereka merupakan pemurtadan terhadap umat Islam, tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia.


Sumber : Suara Islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar