Minggu, 12 Desember 2010

KOK BAGI-BAGI INJIL/KITAB PADA KORBAN MERAPI MUSLIM ?

Yayasan Kristen Bagi-bagi Injil di Pengungsi Muslim Korban Merapi ANEHNYA, Kristenisasi Korban Bencana Merapi Didukung Petinggi NU?

Pemurtadan terhadap Ummat Islam sudah sangat meresahkan. Karena para pengungsi korban Letusan Merapi dari tiga dusun di Kecamatan Dukun, Magelang, pekan lalu dikumpulkan di masjid, lalu dimurtadkan, dengan cara dibagikan roti pemberkatan oleh Rohaniawan dan Relawan mereka, dan yang hadir di dalam Masjid semuanya diberkati atas nama Tuhan Yesus.
Itu dilakukan dengan kedok pemberian santunan kepada korban bencana Merapi oleh Yayasan Citra Kasih dan Anak Nusantara Berbagi Kasih dari Jakarta dan Temanggung.
Astaghfirullah…! Pemurtadan itu telah menginjak-injak hak beragama Ummat Islam, berkedok pemberian santunan kepada Ummat Islam yang sedang tertimpa musibah. Namun anehnya, kejahatan itu justru dari sisi lain ditambah dengan sikap yang sangat menyakitkan Ummat Islam yang masih memiliki ghirah Islamiyah.
Betapa sakitnya, di saat Ummat Islam dimurtadkan oleh pihak Kristen saja dengan cara dikumpulkan di masjid, malahan petinggi NU ((Nahdlatul Ulama) justru terkesan membanggakan gerakan jahat pemurtadan terhadap Ummat Islam oleh pihak Nasrani itu.
Di saat Ummat Islam sedang perih dan pilu hatinya itu, tergores lagi oleh berita ini:
Said Agil Siradj (Ketua Umum PBNU) menegaskan, kerjasama antara NU dengan HKBP sudah berjalan dan itu dibuktikan saat bencana Gunung Merapi, HKBP menyumbangkan bantuan ke Magelang dimana di sana mayoritas warga NU yakni tujuh kontainer. ( medanbisnisdaily.com, Kamis, 02 Des 2010 08:54 WIB)
Ungkapan Said Agil Siradj itu untuk menandaskan apa yang sedang dia kerjakan yakni menandatangani naskah kerjasama antara NU dengan pihak kafir, HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), dan naskahnya diserahkan oleh Said Agil kepada pihak HKBP di Medan, 1 Desember 2010.
Ini beritanya:
Teken MoU
Setelah kasus Ciketing, kata Ephorus, NU dan HKBP menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk membangun kebersamaan secara terus menerus dan bukan insidentil. Tujuan kerjasama itu, demi kebangsaan dan keinginan mengenal sesama.
“Karena tujuannya kebangsaan, diharapkan kerjasama ini bukan hanya NU-HKBP, tapi kerjasama antar gereja dengan NU bahkan dengan Muhammdiyah dan lainnya. Diharapkan dilakukan kerjasama antara UHN dengan IAIN, sehingga kerjasamanya bukan lagi dengan HKBP saja tapi semua gereja,” jelas Ephorus.(
Kamis, 02 Des 2010 08:54 WIB, http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2010/12/02/9639/said_agil_lupakan_ciketing_mari_bangun_kebersamaan/)
Tingkah petinggi NU yang menyakitkan bagi Ummat Islam itu tentu saja bukan hanya menyakitkan bagi Ummat Islam, namun bagi warga NU sendiri yang masih taat agama dan berfikiran waras, bukan menjual agama demi sak cokotan belaka. (haji).

BERITA TERKAIT :




Waktu itu Rabu (24/11/2010) Relawan Masjid Indonesia mengantar bantuan ke dusun Windu Sajan, desa Wonolelo, kec. Sawangan Magelang. Jam menunjukkan sekitar 11.00 siang. Bantuan telah diserahterimakan dan koordinasi dengan pengurus dusun untuk kegiatan didaerah tersebut sekaligus untuk membantu daearah-daerah sekitar.
Di Dusun itu ada 2 posko warga, yang pertama posko utama milik warga dan yang satunya adalah posko dirumah warga non-muslim.
Non-muslim cuma ada 2 Kepala Keluarga (KK),
yang lainnya Muslim sekitar 195 KK. Sewaktu berkoordinasi, tiba-tiba ada rombongan iring-iringan mobil. Yang paling depan bus besar, truk, dan 2 mobil.
Dikaca depan bus berplat nomor ‘N’ ini ditulis Bantuan untuk korban Merapi dalam print kertas HVS. Kemudian mereka menuju posko milik non-muslim. Pamong dusun yang sedang berkoordinasi dengan kami, memohon ijin untuk menemui rombongan tersebut. Selang berapa menit, pamong tersebut menemui kami kembali dan menceritakan kalau rombongan tadi membawa bantuan berupa 200 buah kasur, paket sembako dan janjikan Genset 16 untuk dusun tersebut.
Kemudian kami bersama Wakil Kepala Dusun yakni Pak Marpomo pergi ke sebuah dusun di dusun Senden, Boyolali yang jaraknya 30 km dari dusun Windu Sajan untuk mengantar bantuan didaerah tersebut, karena belum pernah mendapatkan bantuan darimanapun. Perjalanan ke daerah tersebut cukup lama karena medan yang berat dan hujan.
Selesainya menyerahkan bantuan dan mengadakan pengajian di Masjid itu, kami pulang kembali ke dusun Windu Sajan, sampai di posko sekitar jam 17.00 dalam keadaan hujan lebat. Pas saat itu rombongan dari yayasan non-muslim sedang bubar, Nampak dari rombongan itu ada orang-orang ‘bule’ dipayungi nenek-nenek warga desa tersebut. Rombongan kemudian pergi meninggalkan dusun tersebut.
Sebentar kemudian kami menikmati teh dan makanan kecil, sewaktu itu kemudian ada anak-anak berlari melewati kami dengan menenteng buku. Rasa curiga saya segera muncul, buku apa yang dibawa, dan ternyata yang dibawa anak-anak adalah Al-Kitab. Segera kami dengan pamong dusun menanyai anak-anak tersebut, dapat darimana buku itu? Dari pengakuan anak-anak, buku tersebut dibagi di posko lapangan (non-muslim).
Segera kami berkoordinasi dan rapat, untuk antisipasi pemurtadan. Dan ternyata selain membagi Al-Kitab, mereka juga akan membeli tanah warga untuk dijadikan Gereja dan TK.
Akhirnya, disepakati untuk menarik Al-Kitab tersebut, dan segera melakukan penolakan untuk pembangunan gereja didaerah yang mayoritas Muslim tersebut. Perlu diketahui daerah-daerah di lereng Merapi dan Merbabu di desa Wonolelo disana hampir tiap dusun ada 1 pendeta, dan juga ada gereja atau kapelnya.
Untuk memantapkan aqidah dan mengantisipasi pemurtadan Relawan Masjid Indonesia mengadakan Pengajian Akbar pada malam Ahad (27/11/2010) di Masjid Windu Sajan yang diikuti ribuan orang, dengan pembicara Ust. Puji Hartono dari tim da’i Relawan Masjid Indonesia, sekaligus me-launching Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu yang dibentuk Relawan Masjid untuk dakwah jangka panjang di daerah lereng Merapi Merbabu.
Mohon doanya, Relawan Masjid Indonesia untuk kelangsungan dakwah di lereng Merapi dan Merbabu akan membangun TK-TPA Al-Aqsha yang dilanjutkan mendirikan Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu ditanah wakaf warga daerah tersebut. Beberapa bantuan telah masuk dari Ulama dan pengungsi Palestina melalui Sahabat Al-Aqsha dan juga dari Kispa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar